Nama : Rizki
Fauzan Pratama
Kelas : 4PA09
Kecemasan
Kecemasan
adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap
kesehatan. Individu-individu yang tergolong normal kadang kala mengalami
kecemasan yang menampak, sehingga dapat disaksikan pada penampilan yang berupa
gejala-gejala fisik maupun mental. Gejala tersebut lebih jelas pada individu
yang mengalami gangguan mental. Lebih jelas lagi bagi individu yang mengidap
penyakit mental yang parah. Gejala-gejala yang bersifat fisik diantaranya
adalah : jari tangan dingin, detak jantung makin cepat, berkeringat dingin,
kepala pusing, nafsu makan berkurang, tidur tidak nyenyak, dada sesak.Gejala
yang bersifat mental adalah : ketakutan merasa akan ditimpa bahaya, tidak dapat
memusatkan perhatian, tidak tenteram, ingin lari dari kenyataan (Siti Sundari,
2004:62). Kecemasan juga memiliki karakteristik berupa munculnya perasaan takut
dan kehati-hatian atau kewaspadaan yang tidak jelas dantidak menyenangkan. Gejala-gejala
kecemasan yang muncul dapat berbeda pada masing-masing orang. Kaplan, Sadock,
& Grebb (Fitri Fauziah & Julianti Widury, 2007:74) menyebutkan
bahwa takut dan cemas merupakan dua emosi yang berfungsi sebagai tanda akan
adanya suatu bahaya. Rasa takut muncul jika terdapat ancaman yang jelas atau
nyata, berasal dari lingkungan, dan tidak menimbulkan konflik bagi individu.
Sedangkan kecemasan muncul jika bahaya berasal dari dalam diri, tidak jelas,
atau menyebabkan konflik bagi individu.
Kecemasan
berasal dari perasaan tidak sadar yang berada didalam kepribadian sendiri, dan
tidak berhubungan dengan objek yang nyata atau keadaan yang benar-benar ada.
Kholil Lur Rochman, (2010:103) mengemukakan beberapa gejala-gejala dari
kecemasan antara lain :
a. Ada
saja hal-hal yang sangat mencemaskan hati, hampir setiap kejadian menimbulkan
rasa takut dan cemas. Kecemasan tersebut merupakan bentuk ketidakberanian
terhadap hal-hal yang tidak jelas.
b. Adanya
emosi-emosi yang kuat dan sangat tidak stabil. Suka marah dan sering dalam
keadaan exited (heboh) yang memuncak, sangat irritable, akan tetapi sering juga
dihinggapi depresi.
c. Diikuti
oleh bermacam-macam fantasi, delusi, ilusi, dan delusion of persecution (delusi
yang dikejar-kejar).
d. Sering
merasa mual dan muntah-muntah, badan terasa sangat lelah, banyak berkeringat,
gemetar, dan seringkali menderita diare.
e. Muncul
ketegangan dan ketakutan yang kronis yang menyebabkan tekanan jantung menjadi
sangat cepat atau tekanan darah tinggi.
Nevid Jeffrey S,
Spencer A, & Greene Beverly (2005:164) mengklasifikasikan gejala-gejala
kecemasan dalam tiga jenis gejala, diantaranya yaitu :
a. Gejala
fisik dari kecemasan yaitu : kegelisahan, anggota tubuh bergetar, banyak
berkeringat, sulit bernafas, jantung berdetak kencang, merasa lemas, panas
dingin, mudah marah atau tersinggung.
b. Gejala
behavioral dari kecemasan yaitu : berperilaku menghindar, terguncang, melekat
dan dependen
c. Gejala
kognitif dari kecemasan yaitu : khawatir tentang sesuatu, perasaan terganggu
akan ketakutan terhadap sesuatu yang terjadi dimasa depan, keyakinan bahwa
sesuatu yang menakutkan akan segera terjadi, ketakutan akan ketidakmampuan
untuk mengatasi masalah, pikiran terasa bercampur aduk atau kebingungan, sulit
berkonsentrasi.
Menurut Spilberger
(dalam Triantoro Safaria & Nofrans Eka Saputra, 2012: 53) menjelaskan
kecemasan dalam dua bentuk, yaitu:
1.
Trait anxiety
Trait
anxiety, yaitu adanya rasa khawatir dan terancam yang menghinggapi diri
seseorang terhadap kondisi yang sebenarnya tidak berbahaya. Kecemasan ini
disebabkan oleh kepribadian individu yang memang memiliki potensi cemas
dibandingkan dengan individu yang lainnya.
2.
State anxiety
State
anxiety, merupakan kondisi emosional dan keadaan sementara pada diri individu
dengan adanyaperasaan tegang dan khawatir yang dirasakan secara sadar serta
bersifat subjektif. Sedangkan menurut Freud (dalam Feist & Feist, 2012:
38) membedakan kecemasan dalam tiga jenis, yaitu:
a. Kecemasan neurosis
Kecemasan
neurosis adalah rasa cemas akibat bahaya yang tidak diketahui. Perasaan itu
berada pada ego, tetapi muncul dari dorongan id. Kecemasan neurosis bukanlah
ketakutan terhadap insting-insting itu sendiri, namun ketakutan terhadap
hukuman yang mungkin terjadi jika suatu insting dipuaskan.
b. Kecemasan moral
Kecemasan
ini berakar dari konflik antara ego dan superego. Kecemasan ini dapat muncul
karena kegagalan bersikap konsisten dengan apa yang mereka yakini benar secara
moral. Kecemasan moral merupakan rasa takut terhadap suara hati. Kecemasan
moral juga memiliki dasar dalam realitas, di masa lampau sang pribadi pernah
mendapat hukuman karena melanggar norma moral dan dapat dihukumkembali.
c. Kecemasan realistik
Kecemasan
realistik merupakan perasaan yang tidak menyenangkan dan tidak spesifik yang
mencakup kemungkinan bahaya itu sendiri. Kecemasan realistik merupakan rasa takut
akan adanya bahaya-bahaya nyata yang berasal dari dunia luar.
Upaya untuk mengurangi
kecemasan:
Cara
yang terbaik untuk menghilangkan kecemasan ialah dengan jalan menghilangkan
sebeb-sebabnya. Menurut Zakiah Daradjat (1988: 29) adapun cara-cara yang dapat
dilakukan, antaralain:
1. Pembelaan
Usaha yang dilakukan untuk mencari alasan-alasan yang masuk akal bagi tindakan
yang sesungguhnya tidak masuk akal, dinamakan pembelaan. Pembelaan ini tidak
dimaksudkan agar tindakan yang tidak masuk akal itu dijadikan masuk akal, akan
tetapi membelanya, sehingga terlihat masuk akal. Pembelaan ini tidak dimaksudkan
untuk membujuk atau membohongi orang lain, akan tetapi membujuk dirinya
sendiri, supaya tindakan yang tidak bisa diterima itu masih tetap dalam
batas-batas yang diingini oleh dirinya.
2. Proyeksi Proyeksi adalah menimpakan sesuatu
yang terasa dalam dirinya kepada orang lain, terutama tindakan, fikiran atau
dorongan-dorongan yang tidak masuk akal sehingga dapat diterima dan
kelihatannya masuk akal.
3. Identifikasi
Identifikasi adalah kebalikan dari proyeksi, dimana orang turut merasakan
sebagian dari tindakan atau sukses yang dicapai oleh orang lain. Apabila ia
melihat orang berhasil dalam usahanya ia gembira seolah-olah ia yang sukses dan
apabila ia melihat orang kecewa ia juga ikut merasa sedih.
4. Hilang hubungan (disasosiasi) Seharusnya
perbuatan, fikiran dan perasaan orang berhubungan satu sama lain. Apabila orang
merasa bahwa ada seseorang yang dengan sengaja menyinggung perasaannya, maka ia
akan marah dan menghadapinya dengan balasan yang sama. Dalam hal ini perasaan,
fikiran dan tindakannya adalah saling berhubungan dengan harmonis. Akan tetapi
keharmonisan mungkin hilang akibat pengalaman- pengalaman pahit yang dilalui
waktu kecil. 5. Represi Represi adalah tekanan untuk melupakan hal-hal, dan
keinginan-keinginan yang tidak disetujui oleh hati nuraninya. Semacam usaha
untuk memelihara diri supaya jangan terasa dorongan-dorongan yang tidak sesuai
dengan hatinya. Proses itu terjadi secara tidak disadari. 6. Subsitusi
Substitusi adalah cara pembelaan diri yang paling baik diantara cara-cara yang
tidak disadari dalam menghadapi kesukaran. Dalam substitusi orang melakukan
sesuatu, karena tujuan-tujuan yang baik, yang berbeda sama sekali dari tujuan
asli yang mudah dapat diterima, dan berusaha mencapai sukses dalam hal itu.
Daftar
pustaka
Annisa, D.F, Idil. (2016). Konsep kecemasan pada
lanjut usia. Konselor. 5(2), 1-7.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar