Senin, 19 November 2018

Komunikasi orangtua dengan anak autis


KOMUNIKASI ORANG TUA DENGAN ANAK AUTIS
Keluarga merupakan lembaga pertama dan utama bagi anak dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya bahkan dalam usaha pendidikan dan pembinaanuntuk menjadi manusia dewasa yang sehat jasmani, rohani dan sosial. Didalam keluarga orang tua (ayah-ibu) mempunyai tugas, fungsi dan peran yang sangat penting dalam menuntun dan mengarahkan proses pertumbuhan dan perkembangan emosi,berpikir dan sosial psikologis serta rohani anak menuju kematangan/kedewasaan yang cerdas, terampil dan berbudi pekerti yang luhur. Setiap Bapak atau ibu pasti mengharapkan bahwa kelahiran anak/buah hati cinta kasih mereka dalam keadaan normal, namun dalam kenyataan kadangkala harapan atau impian tersebut tidak sesuai dengan kenyataan karena dalam proses kelahiran bahkan sesudah kelahiran anak mengalami perubahan pertumbuhan dan perkembangan yang tidak normal atau mengalami beberapa gangguan tertentu sehingga anak memiliki kebutuhan khusus seperti gangguan pada anak autis.
Beberapa permasalahan yang secara umum terdapat pada anak dengan gangguan autis adalah pada aspek sosial dan komunikasi yang sangat kurang atau lambat serta perilaku yang repetitif atau pengulangan dan keadaan ini dapat kita amati pada anak seperti kekurang mampuan anak untuk menjalin interaksi sosial yang timbal balik secara baik dan memadai, kurang kontak mata, ekspresi wajah yang kurang ceria atau hidup serta gerak-gerik anggota tubuh yang kurang tertuju, tidak dapat bermain dengan teman sebaya sehingga terlihat sendiri saja atau cenderung menjadi penyendiri bahkan tidak dapat berempati atau merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dalam bidang atau aspek komunikasi anak autis juga mengalami permasalahan pada kemampuan berbicara yang sangat lambat, bahkan wicaranya sama sekali tidak berkembang serta tidak ada usaha dari sang anak untuk dapat mengimbangi komunikasi dengan orang lain atau kalau anak autis bisa/dapat berbicara maka bicaranya tersebut tidak dipakai untuk berkomunikasi dengan orang lain tetapi dengan dirinya sendiri dan sering pula menggunakan bahasa atau kata-kata yang aneh yang tidak dimengerti serta diulang-ulang. Cara bermain anak autis sangat kurang variatif, kurang imajinatif serta tidak dapat meniru, secara tiba-tiba sering menangis tanpa sebab, menolak untuk dipeluk, tidak menengok atau menoleh bila dipanggil namanya bahkan tidak tertarik pada berbagai jenis atau bentuk permainan, namun seringkali bermain dengan benda-benda yang bukan permainan, misalnya bermain sepeda bukan dinaiki tapi sepeda tersebut dibalik dan ia memutar-mutar bolanya. Anak dengan gangguan autis juga sering menunjukkan kemampuan atau ketrampilan yang sangat baik tapi sebaliknya sangat terlambat misalnya dapat menggambar sesuatu objek secara baik dan rinci tapi sebaliknya tidak dapat mengancing bajunya, pintar atau trampil bongkar pasang permainan tertentu tapi sangat sulit/sukar mematuhi dan mengikuti perintah, dapat berjalan tepat pada usia normal tapi tidak dapat berkomunikasi, sangat lancar membeo bicara tapi tidak dapat atau sulit berbicara dari diri sendiri, pada suatu waktu dapat secara tepat dan cepat melakukan sesuatu tapi pada lain waktu tidak sama sekali.  Mendapati kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak bermasalah seperti ini maka sangat beragam reaksi dari orang tua dan dapat diduga bahwa reaksi utama yang paling mungkin ditampilkan oleh para orang tua atau keluarga adalah kekecewaan dan kesedihan serta kebingungan yang mungkin seterusnya akan disusul dengan rasa malu sehingga membuat orang tua memilih untuk bersembunyi bahkan menutup-nutupi keadaan buah hati mereka dari lingkungan sekitarnya dengan mengurung anak di dalam rumah bahkan kamar tertentu, serta mengucilkan anak dari lingkungan mereka ketimbang mencari keterangan/informasi yang benar mengenai gangguan atau kelainan tumbuh kembang anak mereka.berkembang serta tidak ada usaha dari sang anak untuk dapat mengimbangi komunikasi dengan orang lain atau kalau anak autis bisa/dapat berbicara maka bicaranya tersebut tidak dipakai untuk berkomunikasi dengan orang lain tetapi dengan dirinya sendiri dan sering pula menggunakan bahasa atau kata-kata yang aneh yang tidak dimengerti serta diulang-ulang. Cara bermain anak autis sangat kurang variatif, kurang imajinatif serta tidak dapat meniru, secara tiba-tiba sering menangis tanpa sebab, menolak untuk dipeluk, tidak menengok atau menoleh bila dipanggil namanya bahkan tidak tertarik pada berbagai jenis atau bentuk permainan, namun seringkali bermain dengan benda-benda yang bukan permainan, misalnya bermain sepeda bukan dinaiki tapi sepeda tersebut dibalik dan ia memutar-mutar bolanya. Anak dengan gangguan autis juga sering menunjukkan kemampuan atau ketrampilan yang sangat baik tapi sebaliknya sangat terlambat misalnya dapat menggambar sesuatu objek secara baik dan rinci tapi sebaliknya tidak dapat mengancing bajunya, pintar atau trampil bongkar pasang permainan tertentu tapi sangat sulit/sukar mematuhi dan mengikuti perintah, dapat berjalan tepat pada usia normal tapi tidak dapat berkomunikasi, sangat lancar membeo bicara tapi tidak dapat atau sulit berbicara dari diri sendiri, pada suatu waktu dapat secara tepat dan cepat melakukan sesuatu tapi pada lain waktu tidak sama sekali.
 Mendapati kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak bermasalah seperti ini maka sangat beragam reaksi dari orang tua dan dapat diduga bahwa reaksi utama yang paling mungkin ditampilkan oleh para orang tua atau keluarga adalah kekecewaan dan kesedihan serta kebingungan yang mungkin seterusnya akan disusul dengan rasa malu sehingga membuat orang tua memilih untuk bersembunyi bahkan menutup-nutupi keadaan buah hati mereka dari lingkungan sekitarnya dengan mengurung anak di dalam rumah bahkan kamar tertentu, serta mengucilkan anak dari lingkungan mereka ketimbang mencari keterangan/informasi yang benar mengenai gangguan atau kelainan tumbuh kembang anak mereka.
A.    ANAK DENGAN GANGGUAN AUTIS
Menurut Sunu, (2012:7), autisme berasal dari kata ‘auto’ yang artinya sendiri. Istilah ini dipakai karena mereka yang mengidap gejala autisme seringkali memang terlihat seperti seorang yang hidup sendiri. Mereka seolah-olah hidup di dunianya sendiri dan terlepas dari kontak sosial yang ada di sekitarnya. Sedangkan pandangan dari Priyatna (2010:2) menyatakan bahwa autisme mengacu pada nproblem dengan interaksi sosial, komunikasi dan bermain dengan imajinatif yang mulai muncul sejak anak berusia di bawah tiga tahun dan mereka mempunyai keterbatasan pada level aktifitas dan interest dan hampir tujuh puluh lima persen dari anak autispun mengalami beberapa derajat retardasi mental.
Autisme juga merupakan sebuah gejala yang kompleks, karena kelainan pada anak autisme seringkali tidak hanya terjadi pada satu bagian, namun meliputi banyak faktor. Di bawah ini beberapa faktor penyebab kelainan yang bisa terjadi pada anak autisme:
1)      Kelainan anatomis otak: kelaianan pada bagian-bagian tertentu otak yang meliputi cerebellum (otak kecil), lobus parietalis, dan sistem limbik ini mencerminkan bentukbentuk perilaku berbeda yang muncul pada anak-anak autis.
2)      Faktor pemicu tertentu saat hamil: terjadi pada masa kehamilan 0-4 bulan, bisa
diakibatkan karena:
 Polutan logam berat
 Infeksi
 Zat adiktif
 Hiperemesis
 Pendarahan berat
 Alergi berat
3)      Zat- zat adiktif yang mencemari otak anak:
 asupan MSG
 protein tepung terigu, protein susu sapi
 zat pewarnaan
 bahan pengawet
4)      Gangguan sistem pencernaan: seperti kurangnya enzim sekretin diketahui berhubungan dengan munculnya gejala autisme.
5)      Kekacauan interpretasi dari sensori: yang menyebabkan stimulus dipersepsi secara berlebihan oleh anak sehingga menimbulkan kebingungan juga menjadi salah satu penyebab autisme.
6)      Jamur yang muncul di usus anak: akibat pemakaian antbiotik yang berlebihan dapat memicu ganguan pada otak.

B.     PENTIGNYA KELUARGA
Emosi yang menyertai orang tua di masa-masa awal ketika anaknya mendapat
diagnosa autis memang seringkali campur aduk. orang tua biasanya merasa: sedih, kecewa, bersalah atau mungkin marah dan bingung. Ini adalah hal wajar. Anda sedang menginjakan kaki di dunia yang belum pernah anda datangi. Untuk membesarkan seorang anak autis memang butuh ilmu dan usaha sendiri. Anda tidak dapat membesarkan seorang anak autis sendirian, kita butuh dukungan dari banyak pihak untuk melakukan ini sehingga mampu memberikan yang terbaik bagi perkembangan anak-anak kita.
Perlu dipahami bahwa anak autis dapat mencapai pertumbuhan yang optimal jika didukung dengan penanganan yang baik. Penanganan yang baik ini membutuhkan keterbukaan dari orangtua untuk mengkomunikasikan kondisi anak mereka secara jujur pada dokter jiwa anak, dokter anak, terapis, psikolog, guru di sekolah, termasuk saudarasaudara di dalam keluarga besar. Jadi bekerjasamalah dengan mereka. Keluarga merupakan lingkungan dimana anak menghabiskan waktunya selama masa-masa pertumbuhan. Itu kenapa kita perlu mengatur agar keluarga menjadi sebuah lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara optimal. Orangtua harus terlebih dahulu menerima kondisi anaknya sebagaimana adanya. Meskipun pada awalnya perlu banyak menggali informasi dari para ahi yang ada, pada akhirnya orangtua yang akan bertindak sebagai manajer bagi semua ahli yang menangani anaknya. Di rumah, perlu dilatih baby sitter atau anggota keluarga lain di rumah bagaimana cara terbaik untuk.

Boham,S.E.(2013).Pola komunikasi orang tua denga anak autis. Jurnal Volume. 4(2). 1-18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar