KOMUNIKASI
ORANG TUA DENGAN ANAK AUTIS
Keluarga
merupakan lembaga pertama dan utama bagi anak dalam proses pertumbuhan dan
perkembangannya bahkan dalam usaha pendidikan dan pembinaanuntuk menjadi
manusia dewasa yang sehat jasmani, rohani dan sosial. Didalam keluarga orang
tua (ayah-ibu) mempunyai tugas, fungsi dan peran yang sangat penting dalam
menuntun dan mengarahkan proses pertumbuhan dan perkembangan emosi,berpikir dan
sosial psikologis serta rohani anak menuju kematangan/kedewasaan yang cerdas, terampil
dan berbudi pekerti yang luhur. Setiap Bapak atau ibu pasti mengharapkan bahwa
kelahiran anak/buah hati cinta kasih mereka dalam keadaan normal, namun dalam
kenyataan kadangkala harapan atau impian tersebut tidak sesuai dengan kenyataan
karena dalam proses kelahiran bahkan sesudah kelahiran anak mengalami perubahan
pertumbuhan dan perkembangan yang tidak normal atau mengalami beberapa gangguan
tertentu sehingga anak memiliki kebutuhan khusus seperti gangguan pada anak
autis.
Beberapa
permasalahan yang secara umum terdapat pada anak dengan gangguan autis adalah
pada aspek sosial dan komunikasi yang sangat kurang atau lambat serta perilaku
yang repetitif atau pengulangan dan keadaan ini dapat kita amati pada anak
seperti kekurang mampuan anak untuk menjalin interaksi sosial yang timbal balik
secara baik dan memadai, kurang kontak mata, ekspresi wajah yang kurang ceria
atau hidup serta gerak-gerik anggota tubuh yang kurang tertuju, tidak dapat
bermain dengan teman sebaya sehingga terlihat sendiri saja atau cenderung
menjadi penyendiri bahkan tidak dapat berempati atau merasakan apa yang
dirasakan orang lain. Dalam bidang atau aspek komunikasi anak autis juga
mengalami permasalahan pada kemampuan berbicara yang sangat lambat, bahkan
wicaranya sama sekali tidak berkembang serta tidak ada usaha dari sang anak
untuk dapat mengimbangi komunikasi dengan orang lain atau kalau anak autis
bisa/dapat berbicara maka bicaranya tersebut tidak dipakai untuk berkomunikasi
dengan orang lain tetapi dengan dirinya sendiri dan sering pula menggunakan
bahasa atau kata-kata yang aneh yang tidak dimengerti serta diulang-ulang. Cara
bermain anak autis sangat kurang variatif, kurang imajinatif serta tidak dapat
meniru, secara tiba-tiba sering menangis tanpa sebab, menolak untuk dipeluk, tidak
menengok atau menoleh bila dipanggil namanya bahkan tidak tertarik pada berbagai
jenis atau bentuk permainan, namun seringkali bermain dengan benda-benda yang
bukan permainan, misalnya bermain sepeda bukan dinaiki tapi sepeda tersebut dibalik
dan ia memutar-mutar bolanya. Anak dengan gangguan autis juga sering menunjukkan
kemampuan atau ketrampilan yang sangat baik tapi sebaliknya sangat terlambat
misalnya dapat menggambar sesuatu objek secara baik dan rinci tapi sebaliknya
tidak dapat mengancing bajunya, pintar atau trampil bongkar pasang permainan
tertentu tapi sangat sulit/sukar mematuhi dan mengikuti perintah, dapat berjalan
tepat pada usia normal tapi tidak dapat berkomunikasi, sangat lancar membeo bicara
tapi tidak dapat atau sulit berbicara dari diri sendiri, pada suatu waktu dapat
secara tepat dan cepat melakukan sesuatu tapi pada lain waktu tidak sama
sekali. Mendapati kondisi pertumbuhan
dan perkembangan anak bermasalah seperti ini maka sangat beragam reaksi dari
orang tua dan dapat diduga bahwa reaksi utama yang paling mungkin ditampilkan
oleh para orang tua atau keluarga adalah kekecewaan dan kesedihan serta
kebingungan yang mungkin seterusnya akan disusul dengan rasa malu sehingga
membuat orang tua memilih untuk bersembunyi bahkan menutup-nutupi keadaan buah
hati mereka dari lingkungan sekitarnya dengan mengurung anak di dalam rumah
bahkan kamar tertentu, serta mengucilkan anak dari lingkungan mereka ketimbang
mencari keterangan/informasi yang benar mengenai gangguan atau kelainan tumbuh
kembang anak mereka.berkembang serta tidak ada usaha dari sang anak untuk dapat
mengimbangi komunikasi dengan orang lain atau kalau anak autis bisa/dapat
berbicara maka bicaranya tersebut tidak dipakai untuk berkomunikasi dengan
orang lain tetapi dengan dirinya sendiri dan sering pula menggunakan bahasa
atau kata-kata yang aneh yang tidak dimengerti serta diulang-ulang. Cara
bermain anak autis sangat kurang variatif, kurang imajinatif serta tidak dapat
meniru, secara tiba-tiba sering menangis tanpa sebab, menolak untuk dipeluk, tidak
menengok atau menoleh bila dipanggil namanya bahkan tidak tertarik pada berbagai
jenis atau bentuk permainan, namun seringkali bermain dengan benda-benda yang
bukan permainan, misalnya bermain sepeda bukan dinaiki tapi sepeda tersebut dibalik
dan ia memutar-mutar bolanya. Anak dengan gangguan autis juga sering menunjukkan
kemampuan atau ketrampilan yang sangat baik tapi sebaliknya sangat terlambat
misalnya dapat menggambar sesuatu objek secara baik dan rinci tapi sebaliknya
tidak dapat mengancing bajunya, pintar atau trampil bongkar pasang permainan
tertentu tapi sangat sulit/sukar mematuhi dan mengikuti perintah, dapat berjalan
tepat pada usia normal tapi tidak dapat berkomunikasi, sangat lancar membeo bicara
tapi tidak dapat atau sulit berbicara dari diri sendiri, pada suatu waktu dapat
secara tepat dan cepat melakukan sesuatu tapi pada lain waktu tidak sama
sekali.
Mendapati kondisi pertumbuhan dan perkembangan
anak bermasalah seperti ini maka sangat beragam reaksi dari orang tua dan dapat
diduga bahwa reaksi utama yang paling mungkin ditampilkan oleh para orang tua
atau keluarga adalah kekecewaan dan kesedihan serta kebingungan yang mungkin
seterusnya akan disusul dengan rasa malu sehingga membuat orang tua memilih
untuk bersembunyi bahkan menutup-nutupi keadaan buah hati mereka dari
lingkungan sekitarnya dengan mengurung anak di dalam rumah bahkan kamar
tertentu, serta mengucilkan anak dari lingkungan mereka ketimbang mencari
keterangan/informasi yang benar mengenai gangguan atau kelainan tumbuh kembang
anak mereka.
A.
ANAK DENGAN GANGGUAN AUTIS
Menurut
Sunu, (2012:7), autisme berasal dari kata ‘auto’ yang artinya sendiri. Istilah
ini dipakai karena mereka yang mengidap gejala autisme seringkali memang
terlihat seperti seorang yang hidup sendiri. Mereka seolah-olah hidup di
dunianya sendiri dan terlepas dari kontak sosial yang ada di sekitarnya.
Sedangkan pandangan dari Priyatna (2010:2) menyatakan bahwa autisme mengacu
pada nproblem dengan interaksi sosial, komunikasi dan bermain dengan imajinatif
yang mulai muncul sejak anak berusia di bawah tiga tahun dan mereka mempunyai
keterbatasan pada level aktifitas dan interest dan hampir tujuh puluh lima
persen dari anak autispun mengalami beberapa derajat retardasi mental.
Autisme
juga merupakan sebuah gejala yang kompleks, karena kelainan pada anak autisme
seringkali tidak hanya terjadi pada satu bagian, namun meliputi banyak faktor.
Di bawah ini beberapa faktor penyebab kelainan yang bisa terjadi pada anak
autisme:
1) Kelainan
anatomis otak: kelaianan pada bagian-bagian tertentu otak yang meliputi
cerebellum (otak kecil), lobus parietalis, dan sistem limbik ini mencerminkan
bentukbentuk perilaku berbeda yang muncul pada anak-anak autis.
2) Faktor
pemicu tertentu saat hamil: terjadi pada masa kehamilan 0-4 bulan, bisa
diakibatkan
karena:
Polutan logam berat
Infeksi
Zat adiktif
Hiperemesis
Pendarahan berat
Alergi berat
3) Zat-
zat adiktif yang mencemari otak anak:
asupan MSG
protein tepung terigu, protein susu sapi
zat pewarnaan
bahan pengawet
4) Gangguan
sistem pencernaan: seperti kurangnya enzim sekretin diketahui berhubungan
dengan munculnya gejala autisme.
5) Kekacauan
interpretasi dari sensori: yang menyebabkan stimulus dipersepsi secara
berlebihan oleh anak sehingga menimbulkan kebingungan juga menjadi salah satu
penyebab autisme.
6) Jamur
yang muncul di usus anak: akibat pemakaian antbiotik yang berlebihan dapat
memicu ganguan pada otak.
B.
PENTIGNYA KELUARGA
Emosi
yang menyertai orang tua di masa-masa awal ketika anaknya mendapat
diagnosa
autis memang seringkali campur aduk. orang tua biasanya merasa: sedih, kecewa,
bersalah atau mungkin marah dan bingung. Ini adalah hal wajar. Anda sedang
menginjakan kaki di dunia yang belum pernah anda datangi. Untuk membesarkan
seorang anak autis memang butuh ilmu dan usaha sendiri. Anda tidak dapat
membesarkan seorang anak autis sendirian, kita butuh dukungan dari banyak pihak
untuk melakukan ini sehingga mampu memberikan yang terbaik bagi perkembangan
anak-anak kita.
Perlu
dipahami bahwa anak autis dapat mencapai pertumbuhan yang optimal jika didukung
dengan penanganan yang baik. Penanganan yang baik ini membutuhkan keterbukaan
dari orangtua untuk mengkomunikasikan kondisi anak mereka secara jujur pada
dokter jiwa anak, dokter anak, terapis, psikolog, guru di sekolah, termasuk
saudarasaudara di dalam keluarga besar. Jadi bekerjasamalah dengan mereka. Keluarga
merupakan lingkungan dimana anak menghabiskan waktunya selama masa-masa
pertumbuhan. Itu kenapa kita perlu mengatur agar keluarga menjadi sebuah lingkungan
yang mendukung perkembangan anak secara optimal. Orangtua harus terlebih dahulu
menerima kondisi anaknya sebagaimana adanya. Meskipun pada awalnya perlu banyak
menggali informasi dari para ahi yang ada, pada akhirnya orangtua yang akan bertindak
sebagai manajer bagi semua ahli yang menangani anaknya. Di rumah, perlu dilatih
baby sitter atau anggota keluarga lain di rumah bagaimana cara terbaik untuk.
Boham,S.E.(2013).Pola
komunikasi orang tua denga anak autis. Jurnal
Volume. 4(2). 1-18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar